Di zaman ketika panggung dikuasai cermin-cermin semu, sanjungan dibeli dengan kemilau perak dan jubah citra. Mereka mengurung rajawali, menganggap kepakannya bising tak berharga, lalu dipaksa bersujud pada perkutut di sangkar emas, menyembahnya bagai penguasa udara.
Di saat jajaran burung perkutut dengan pena dan kicauannya sibuk menatah kaca, memoles pantulan semu di ruang-ruang bertirai sutra, mereka mereguk cawan di atas benih yang bertahta, namun tak menggentarkan sang Rajawali tuk bergemuru dengan suara khasnya. Ia memilih nyanyian sumbang yang terlupa.
Meski duri-duri semak menyayat kepakan langkahnya, dan gelar sang pengacau sunyi disematkan di dadanya, paruh dan penanya tak sedikit pun hening bertutur, membelah kerapatan kabut gelap gulita yang enggan melebur.
Aroma racun konspirasi dari balik bayang-bayang gelap tak sanggup menghentikan kepakan sayap yang makin mengepak. Sebab ia tahu, mahkota sejati seorang pengembara bukan pada sanjungan, melainkan pada kompas di dadanya.
Ia adalah penguasa langit yang gersang, rajawali perkasa membelah malam yang panjang, menegaskan bahwa cahaya fajar yang hakiki tak akan pernah sanggup dipadamkan oleh malam.
