Merawat Nurani Pers Takalar, Wartawan tidak bertugas menjadi pemandu sorak kekuasaan

   OPINI: Dari pelosok Laikang hingga pesisir Galesong

Gambar ilustrasi

TAKALAR 23 Agustus 2026 — Menjadi wartawan di Kabupaten Takalar hari ini bukan sekadar urusan memegang kartu pers, menghadiri seremoni, lalu memuat rilis pers pemerintah. Lebih jauh dari itu, wartawan adalah penjaga gawang kebenaran (gatekeeper) sekaligus penyambung lidah masyarakat dari pelosok Laikang hingga pesisir Galesong. Namun, di tengah godaan ekonomi dan pusaran kepentingan politik lokal, profesionalisme kerap berada di persimpangan jalan yang krusial.

Pena dan kamera yang dimiliki jurnalis sejatinya adalah instrumen kontrol sosial, bukan alat transaksi. Amat disayangkan apabila benteng idealisme itu merosot akibat tergoda "uang receh"—istilah bagi imbalan instan, amplop pembungkam, atau janji-janji manis yang mengabaikan kaidah etika. Ketika sebuah berita bisa dibeli atau dibungkam hanya demi rupiah yang tak seberapa, di situlah kehormatan profesi ini hancur tanpa sisa.

Ada tiga hal fundamental yang wajib direfleksikan kembali oleh insan pers di Takalar:

Jangan Pernah Menjauhi Rakyat

Roh jurnalisme bersumber dari publik. Saat wartawan lebih sering duduk melingkar dengan elite ketimbang mendengarkan keluhan petani, nelayan, atau warga miskin yang tersisih, pers telah kehilangan arah. Keadilan informasi harus berpihak pada kepentingan umum, bukan kenyamanan pemangku kekuasaan.

Independensi Adalah Harga Mati

Menjaga Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan UU No. 40 Tahun 1999 bukan sekadar formalitas, melainkan panduan moral. Keberimbangan (cover both sides), verifikasi fakta, dan kejujuran tidak boleh ditawar hanya karena sungkan atau terikat kompensasi materi.

Kehormatan Profesi Mengalahkan Keuntungan Sesaat

Materi yang didapat dari menggadaikan idealisme hanya memberi kepuasan sementara, tetapi stigma "wartawan bayaran" akan melekat selamanya. Kepercayaan publik yang runtuh mustahil bisa dibangun kembali dalam waktu singkat.

Kabupaten Takalar yang maju membutuhkan pers yang kritis, independen, dan berintegritas. Wartawan tidak bertugas menjadi pemandu sorak kekuasaan, melainkan menjadi cermin jujur bagi daerahnya. Tetaplah berdiri tegak di garis depan kebenaran, sebab integritas adalah satu-satunya mahkota terindah yang dimiliki seorang jurnalis.

Posting Komentar

Hakikat Bernegara untuk membela kepentingan Rakyat diatas kebenaran dan musyawarah

Lebih baru Lebih lama